Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 November 2010

Gempa yang Mengintai Jakarta

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com


Masih lekat dalam ingatan Safarudin, saat Jakarta diguncang gempa tahun lalu. Rabu, 2 September 2009, pukul 14.55 wib, tukang ojek 27 tahun yang biasa mangkal di dekat Wisma Nusantara itu terhenyak, ketika bumi yang dipijaknya bergoyang keras.

“Kreeek…kreeek,” bunyi itu terdengar dari atas, begitu keras di tengah deru kendaraan yang lalu-lalang di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, yang mulai memadat. Safar menengadah ke langit, gedung-gedung jangkung di sekelilingnya terlihat berayun-ayun seolah-olah hendak rubuh menimpanya.

Belum selesai ia mencerna apa yang tengah terjadi, sekonyong-konyong orang-orang dari dalam gedung Wisma Nusantara terbirit-birit berhamburan keluar gedung. “Gempa… gempa..” Tanpa pikir panjang lagi, Safar melompat ke motornya. Ia pacu gas sekencang-kencangnya menyusuri Jl Sutan Syahrir, menjauh dari rimba pencakar langit di pusat kota itu.

Tak jauh dari situ, Sianto Wongjoyo, salah seorang Manajer di Dell Indonesia masih ‘terperangkap’ di kantornya yang berada lantai atas Menara BCA Grand Indonesia Jakarta. Kantor Dell yang baru setahun pindah ke gedung itu, memang terletak lumayan tinggi, yakni di Lantai 48 dari 57 lantai yang ada.

Saat kantornya mulai bergoyang, Sianto tengah rapat. Biasanya ia tak terlalu sensitif terhadap gempa. Namun kali itu guncangan gempa cukup besar untuk menyadarkannya. Lantai bergoyang, kaca-kaca kantor bergetar, dinding-dinding berderak. “Kali ini harus saya akui, benar-benar hebat guncangannya,” Sianto menggambarkan.

Dengan sigap, petugas keamanan memandu para karyawan berkumpul di lorong lift. Dalam hati, Sianto tak lepas berdoa. Menunggu cemas, hingga akhirnya gempa berhenti. Sesaat kemudian, semua dievakuasi keluar gedung, menyusuri anak tangga satu persatu. Jarak 48 lantai memang cukup membuat lutut sedikit linu. “Lumayan capek sih.” Di bawah, ribuan pengunjung dan karyawan yang berkantor di Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Wisma Nusantara, Hotel Nikko, sudah menyemut.

Jangan lupa, Jakarta juga masih punya sekitar 1400 gedung tinggi lainnya. Praktis, aktivitas perkantoran di banyak tempat di Jakarta lumpuh sesaat. Padahal, episentrum gempa saat itu berada di perairan selatan Jawa antara Sukabumi dan Bandung, atau tepatnya di koordinat 7,809 derajat Lintang Selatan dan 107,259 derajat Bujur Timur.

Di Jawa Barat Gempa berkekuatan 7,3 SR itu merenggut setidaknya 79 nyawa, 21 korban hilang, 63.717 rumah rusak berat, dengan perkiraan kerugian lebih dari Rp 300 miliar. Sementara di Jakarta, tak ada korban jiwa dan kerusakan yang berarti. Hanya saja, beberapa gedung mengalami keretakan di sana sini. Setidaknya peristiwa itu mengingatkan semua bahwa Jakarta bukan tempat aman dari ancaman gempa.

Menurut Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Profesor Riset Hery Harjono, secara umum wilayah Jakarta memiliki formasi geologi berusia muda. Lapisan paling atas umumnya berupa tanah lunak yang terdiri dari lempung dan lempung pasiran yang berasal dari endapan pantai dan endapan akibat banjir yang berasal dari periode holosen akhir (berusia sekitar 12 ribu tahun).

Kemudian, di bawahnya terdapat endapan aluvial volkanik yang berasal dari pleistosen akhir (berusia lebih dari 12 ribu tahun). Di bawahnya terdapat endapan marine dan non-marine berumur Pleistosen Awal (sekitar 2.588 juta tahun). Di bagian paling bawah terdapat batuan berumur tersier (1,8 juta - 6,5 juta tahun).

Ir Engkon K Kertapati, peneliti pada Pusat Survei Geologi – Badan Geologi, mengatakan bahwa Jakarta berada di atas tanah yang sangat lemah dan rentan terhadap guncangan gempa. Secara geologi, Jakarta terbagi dua wilayah; Jakarta bagian utara di mana permukaan tanahnya merupakan tanah lunak berusia holosen, dan Jakarta bagian selatan yang lapisan tanahnya relatif lebih padat dan berusia lebih tua (pleistosen).

Bila gempa kuat terjadi, wilayah Jakarta utara paling rawan mengalami proses likuifaksi alias amblasnya permukaan tanah karena perubahan sifat tanah dari padat menjadi air karena gempa. Selain itu, sifat tanah di wilayah utara itu juga akan merambatkan getaran gempa sehingga mengalami amplifikasi atau perbesaran guncangan terhadap gedung-gedung di atasnya.

Menurut Engkon, ini yang membuat Jakarta juga turut merasakan guncangan gempa Tasikmalaya yang pusatnya berjarak hampir dua ratus km dari Jakarta. Saat itu, wilayah Utara Jakarta mengalami amplifikasi gempa hingga 2 kali, sementara wilayah selatan Jakarta mengalami amplifikasi gempa sebesar 1,5 kali.

Oleh karenanya, ahli Gempa LIPI Dr Danny Hilman Natawidjaya mengatakan bila gempa Tasik bermagnitudo lebih besar, misalnya lebih dari 8SR, maka gempa itu bisa memporakporandakan Jakarta. “Ini bisa mematikan, seperti kejadian gempa di Meksiko tahun 1985,” kata Danny. Saat itu, ia menjelaskan, sumber gempa berjarak lebih dari 300 km. Namun, dengan kekuatan gempa sebesar 8,1 SR, gempa itu meratakan kota Mexico City.

Badan survei geologi AS, USGS, menyebutkan, setidaknya 9.500 orang tewas, 30 ribu orang terluka, lebih dari 100 ribu orang menggelandang karena rumah mereka hancur, 412 bangunan tumbang dan 3.124 bangunan lainnya rusak di Mexico City, dengan jumlah kerugian mencapai US$ 3 – 4 miliar. 60 persen dari bangunan-bangunan di daerah lain seperti Ciudad Guzman, Jalisco juga musnah.

Dari catatan Prof Masyhur Irsyam, pakar teknik sipil ITB yang juga kepala tim revisi Peta Gempa Indonesia 2010, pusat gempa Meksiko terjadi di bawah garis pantai Pasifik Meksiko. Episentrumnya berjarak 380 km dari Mexico City.

Lalu kenapa jarak pusat gempa yang begitu jauh tetap bisa mengoyak bangunan-bangunan di Mexico City? Ternyata kota itu berdiri di atas endapan lempung vulkanik yang berusia kurang dari 2.500 tahun. Ini menyebabkan getaran gempa di permukaan tanah bisa mengalami amplifikasi antara 4-5 kali, dan amplifikasi gempa pada bangunan bisa mencapai 21 kali lipat dari getaran di batuan dasar.

Proses amplifikasi pada Gempa Meksiko (courtesy: Prof Masyhur Irsyan)

Di Jakarta sendiri, gedung-gedung yang dibangun, musti memenuhi standar tahan gempa hingga 8 Skala Richter. Menurut Hermawan Sarwono, Direktur Utama perusahaan kontraktor umum PT Insani Daya Kreasi, gedung-gedung di Jakarta yang dibangun pasca 1989 sudah harus memenuhi persyaratan struktur gedung dan kinerja struktur gedung sesuai dengan Standar Nasional Indonesia 1989.

“Bahkan, standarisasi pembangunan gedung pada 2002, ditingkatkan lagi melalui SNI 03-1726-2002 yang jauh lebih ketat dari standar SNI 1989,” kata Hermawan lagi. Namun, kata Masyhur, ada beberapa tahapan yang perlu dilewati dalam sebuah perencanaan bangunan di Jakarta agar tahan gempa.

Pertama, harus diketahui goyangan atau percepatan di batuan dasar. Angka ini bisa diperoleh dari Peta Gempa Indonesia 2010, di mana percepatan di batuan dasar (Peak Base Acceleration/ PBA) Jakarta adalah 0.19 g (g = gravitasi bumi = 981 cm per detik kuadrat) untuk 10 persen kemungkinan terjadinya dalam 50 tahun dan untuk perioda ulang gempabumi 475 tahunan.

Setelah itu, perlu diketahui pula percepatan di permukaan tanah dengan menghitung efek kondisi tanah setempat, misalnya apakah tanah lunak atau tanah keras. Untuk Jakarta, goyangan di batuan dasarnya bisa saja sama, namun goyangan di permukaan tanah Jakarta Utara dan Jakarta Selatan berbeda, karena perbedaan tanahnya.

Yang terakhir, perlu diperhitungkan goyangan di bangunannya sendiri, yang didasarkan pada perilaku bangunan tersebut. "Dengan mengetahui goyangan pada bangunan, maka dapat dihitung besarnya gaya gempa pada bangunan,” kata Masyhur.

Padahal, hingga kini Jakarta masih belum memiliki peta mikrozonasi gempa, yang bisa secara lengkap menyediakan informasi peta kelabilan tanah, termasuk angka percepatan/ goyangan di permukaan tanah di masing-masing wilayah Jakarta. “Sayangnya di Jakarta kita tidak punya,” kata Masyhur.

Padahal, Jakarta diintai oleh beberapa sesar aktif yang siap ‘menyuplai’ getaran gempa yang bisa sampai ke wilayah Jakarta. Di antaranya adalah Sesar Cimandiri dengan magnitudo gempa 7,2 SR dan kecepatan pergerakan tanah 4 mm per tahun, sesar Lembang dengan magnitudo gempa 6,5 SR dan kecepatan pergerakan tanah 1,5 mm per tahun, dan Sesar Sunda dengan magnitudo gempa 7,2 SR dan kecepatan pergerakan tanah 5 mm per tahun.

Belum lagi rumor adanya sesar purba bernama Sesar Ciputat yang konon terbujur dari Ciputat hingga ke daerah Kota. Danny Hilman mencurigai keberadaan sesar ini dari keberadaan sumber mata air panas di sekitar Gedung Arsip Nasional. Meski patahan aktif Jakarta belum terdeteksi, kata Danny, sejarah mencatat gempa besar pernah meluluhlantakkan Jakarta yaitu gempa yang terjadi pada 1699 dan 1852.

Namun, tak semua setuju dengan indikasi keberadaan sesar di Jakarta. “Secara pribadi saya katakan Sesar Ciputat tidak ada,” kata Engkon. Sebab, Jakarta tak memiliki sumber gempa dangkal yang merupakan indikasi dari kegiatan sesar. Namun, Engkon sepakat dengan Danny mengenai kejadian gempa 1699 yang sempat mengguncang Jakarta.

Gempa tahun 1699, kata Engkon berpusat di selatan Gunung Gede, yang menyebabkan terjadinya kerusakan bangunan dan kerusakan parah di sekitar Hanjawar, Puncak. Sir Thomas Stamford Raffles juga mencatat dalam bukunya History of Java, "Gempa 1699 memuntahkan lumpur dari perut bumi. Lumpur itu menutup aliran sungai, menyebabkan kondisi lingkungan tak sehat, kian parah.”

Menurut buku Encyclopedy of World Geography, gempa ini juga menyebabkan Sungai Ciliwung tertutup oleh longsor lumpur, dan pohon-pohon yang bertumbangan, sehingga terjadi banjir di banyak tempat. Tak sampai seabad kemudian, gempa kembali melanda Jakarta pada 1780.

Sebuah Buku berjudul Transits of Venus: New Views of the Solar System and Galaxy mencatat bahwa Observatorium Mohr yang terletak di Batavia, adalah observatorium yang sukses melaporkan beberapa kejadian Transit of Venus (kondisi saat Matahari Venus dan bumi dalam satu garis). Namun, observatorium tersebut hancur akibat gempa tahun 1780.

Pada 27 Agustus 1883, Jakarta kembali diguncang gempa besar akibat letusan Gunung Krakatau yang memicu tsunami 35 meter dan menewaskan 36 ribu jiwa di Jawa bagian barat, dan sebelah selatan Sumatera. Dari catatan-catatan sejarah tadi, Jakarta memang pernah beberapa kali mengalami gempa hebat.

Yang jelas, kata Engkon, ancaman bagi penduduk Jakarta adalah gempa-gempa dangkal yang bersumber dari Jawa Selatan yakni dari arah zona Subduksi (Megathrust) seperti gempa Tasik. Kerentanan Jakarta akan semakin parah bila daerah-daerah tesebut padat penduduk dan bangunan-bangunannya tidak atau kurang memperhatikan aspek bangunan tahan gempa.

Oleh karenanya, Engkon menyarankan agar Jakarta bersiap sebelum bencana tiba, khususnya Jakarta Utara. Pasalnya, di wilayah ini berbagai infrastruktur penting berdiri, dari mulai pelabuhan, kegiatan ekspor impor, transportasi, daerah wisata, sentra-sentra perdagangan juga peninggalan sejarah. ”Sebab, bagaimanapun juga, gempa bumi tidak akan membunuh manusia. Tapi, bangunan roboh lah yang bisa membunuh manusia,” kata Engkon.

Sumber (disadur dari Sumber ini)

Minggu, 07 November 2010

#PulsaUntukRelawan Merapi, Bentuk Kepedulian Warga Twitter

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

donationviatwitter.jpg donatinviatwitter picture by jazz_cries

Jakarta - Mengharukan melihat semangat masyarakat dalam menggalang bantuan korban bencana Merapi. Terlebih saat melihat relawan yang datang dengan modal sendiri.

Para relawan tersebut bukanlah para tenaga ahli yang terfasilitasi. Kebanyakan dari mereka justru masyarakat umum serta mahasiswa yang merelakan diri untuk menggalang dan mendistribusikan bantuan. Mereka semua bekerja dengan hati.

Dengan modal swadaya, beberapa relawan saling berkoordinasi antar posko agar bantuan bisa merata. Karena itu, komunikasi merupakan elemen penting untuk mereka.

Melihat hal itu, seorang warga twitter bernama Pungkas Riandika yang juga inisiator obrolan 140 karakter #twitalk, membuat gerakan sosial di Twitter dengan hashtag #PulsaUntukRelawan.

Kepada detikINET, Jumat (5/11/2010), ia menjelaskan alasan mengapa gerakan ini sampai tercipta. "Ini untuk membantu agar relawan independen bisa lebih fokus pada kegiatan teknis. Mengingat posisi relawan adalah jembatan atau kepanjangan tangan para donatur," paparnya seraya menjelaskan.

Selain itu ia menambahakan bahwa gerakan ini untuk memastikan komunikasi antar koordinator lapangan tetap kondusif selama proses koordinasi. Saat ini sudah terkumpul sekitar 120 nomor relawan yang siap disebar ke para donatur.

Nah, kepada para donatur yang ingin berbagi pulsa, bisa menghubungi Pungkas di nomor 0818 08038000, email: mail@pungkas.com, YM: vote_pungkas, atau akun twitter @pungkas. Ia kemudian akan mengirim balik nomor sang relawan, agar donatur bisa langsung berkirim pulsa.

Din: Letusan Merapi Layak Ditetapkan Sebagai Bencana Nasional

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

din_di_pengungsian.jpg Din_Syamsudin_di_pengungsian picture by jazz_cries

Magelang - Meski pemerintah sudah menetapkan koordinator penanganan bencana Merapi berada di tangan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), namun Presiden SBY belum menetapkan bencana Merapi sebagai bencana nasional. Dengan melihat ruang lingkup ancaman letusan Merapi, Din Syamsuddin menilai penetapan Merapi sebagai bencana nasional sudah layak.

"Sangat. Sangat layak, bencana gunung Merapi sebagai bencana nasional karena lingkup sangat luas melibatkan rakyat yang mengungsi hampir 200 ribu orang," tegas kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin kepada detikcom.

Terkait dengan penanganan bencana Merapi, Din menilai, kinerja pemerintah dalam menangani korban belum berjalan maksimal. Banyak posko pengungsian yang didirikan secara mandiri oleh warga ataupun masyarakat luas belum terpantau oleh pemerintah.

"Posko pengungsi tidak terlalu terjangkau oleh pemerintah. Logistik menumpuk di pemerintah tidak seluruhnya tersebar dan terdistribusi ke posko-posko. Masyarakat perlu perhatian lebih," tegas Din.

Minggu (7/11/2010) kemarin, Din Syamsuddin mendatangi pengungsi di Ponpes Muhammadiyah Kecamatan Muntilan, Magelang. Din Syamsudin juga mengunjungi 8 titik pengungsi yang berada di Magelang, Jawa Tengah. "Salah satu titik di Magelang sebanyak 40 ribu. Ada sebanyak 18 posko di bawah naungan Muhammadiyah," tegas Din.

Terkait penanganan bencana, kata Din, sebanyak 26 RS Muhammadiyah se-Jawa Tengah menyediakan pelayanan psikologi, pelayanan pendidikkan anak-anak dan pengungsi. Muhammadiyah juga menurunkan sebanyak 95 orang petugas evakuasi korban letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dari organisasi kepemudaan Muhammadiyah yang bernama Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).

'Keong Racun' Ceriakan Pengungsi di Maguwoharjo

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

keongracunhiburpengungsi.jpg keong racun hibur pengungsi picture by jazz_cries

Jakarta - Di tengah suasana berduka akibat letusan Gunung Merapi yang menewaskan sejumlah kerabatnya, para pengungsi masih bisa tersenyum. Alunan lagu Keong Racun yang nge-beat, membuat sejumlah pengungsi ikut bernyanyi dan berjoget.

Pantauan detikcom di posko Maguwoharjo, Depok, Sleman, DIY, rombongan Dompet Dhuafa Jakarta tiba di lokasi, Senin (8/11/2010), pukul 09.15 WIB. Rombongan ini membawa 6 pengamen dari Malioboro.

Keenam pengamen yang mengenakan rompi Dompet Dhuafa ini langsung menyanyikan lagu Keong Racun yang dipopulerkan oleh lipsing Shinta-Jojo itu di Youtube. Perlahan-lahan, pengungsi yang tadinya sedang mengantre mandi, langsung mengerumuni para pengamen.

Ada sekitar 70-an pengungsi yang datang. Mulai dari anak-anak hingga nenek dan kakek. Bahkan ada seorang nenek dan kakek ikut bergoyang di tengah-tengah pengamen. Sedangkan pengungsi lainnya ikut bersama-sama pengamen menyanyikan lagu Keong Racun tersebut.

"Eh kau tak tahu malu tanpa basa basi kau ajak happy-happy," seru pengungsi mengikuti lirik lagunya.

Usai lagu Keong Racun, pengungsi juga dihibur lagu Cinta Satu Malam yang dipopulerkan oleh Melinda. Sambil bertepuk tangan, pengungsi terus berjoget dan bernyanyi.

"Kami sengaja membawa pengamen Malioboro untuk menghibur warga di sini. Saya melihat pengungsi antusias melihat pertunjukan pengamen," ujar seorang petugas Dompet Dhuafa.

Selain membawa pengamen, Dompet Dhuafa juga membawa bantuan 2 ton beras. Beras ini nantinya akan diserahkan kepada pihak panitia di posko Maguwoharjo setelah selesai hiburan pengamen.

Sementara itu, ratusan pengungsi lain, masih menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ada yang mandi, mencuci dan menjemur pakaian, dan sebagian lainnya mengantre pembagian baju bekas yang disediakan panitia dari sumbangan orang.

'Silet' Minta Maaf Tayangannya Resahkan Warga Yogyakarta

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

permintaan_naaf_silet.jpg permintaan_naaf_silet image by jazz_cries

Jakarta
- Redaksi infotainment Silet yang tayang di RCTI meminta maaf atas penayangan edisi Minggu (7/11/2010) yang dinilai meresahkan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Permintaan maaf Silet ini ditayangkan beberapa detik setiap beberapa menit.

Pantauan detikcom, permintaan maaf itu mulai ditayangkan di layar RCTI pada Minggu (7/11/2010) malam. Permintaan maaf itu dengan latar belakang hitam dengan tulisan putih, dengan logo 'Silet' di pojok kanan bawah.

Bunyi tulisan itu, "Segenap tim redaksi Silet memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas pemberitaan Silet edisi Minggu 7 November 2010 yang memuat ramalan dan pesan berantai yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya tentang prediksi Merapi. Simpati dan doa kami untuk seluruh korban bencana."

Selain melalui tayangan beberapa detik itu, permintaan maaf juga disampaikan melalui teks berjalan (running text).

Tayangan Silet edisi Minggu banyak menunai kritik di berbagai media, termasuk Twitter, karena meresahkan dan membuat takut pengungsi. Dalam tayangan itu disebutkan radius awan panas Merapi mencapai 65 km dan diramal akan ada ledakan besar. Ada juga pernyataan bahwa Yogya adalah kota malapetaka.

Sebelumnya, banyak warga yang mengeluhkan pemberitaan stasiun televisi tentang bencana Gunung Merapi yang dinilai terlalu berlebihan. Keluhan ini diterima Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik melalui email dan berbagai jaringan sosial media lainnya.

Merespons keluhan masyarakat atas pemberitaan bencana yang dinilai berlebihan di stasiun televisi. KPI akan mengundang para pemimpin redaksi stasiun TV pada Senin 8 November untuk membahas pemberitaan bencana itu.

"Pasti (direspons). Itu sangat luar biasa, kejadian ini tidak biasa," ujar Ketua KPI Dadang Rahmat ketika berbincang dengan detikcom, Minggu (7/11/2010) tentang adanya keluhan masyarakat atas pemberitaan bencana di stasiun TV.

Mengenai surat terbuka jaringan relawan Yogyakarta, Dadang mengatakan belum menerima surat itu, namun mengetahui informasinya. Dia juga memahami esensi keluhan para relawan itu.

Pihaknya berencana memanggil para pemimpin stasiun TV beserta pemimpin redaksinya pada Senin 8 November.

"Kalau soal memanggil akan memanggil Senin besok sore, pimpinan stasiun tv dan redaksinya, lebih komprehensif dalam kondisi seperti ini. Suratnya dikirim besok pagi, dan pertemuannya sore," jelas dia.

Sumber

Rabu, 27 Oktober 2010

Foto Kampung Mbah Maridjan Pasca Bencana

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

Berikut adalah beberapa foto sebuah daerah, di mana Mbah Maridjan (juru kunci Merapi) tinggal, dan menghembuskan nafas terakhirnya.:

Hewan ternak mati terpanggang

Tim SAR terus berjuang mencari korban awan panas




Hewan ternak yang masih hidup, dengan tubuh melepuh terkena awan panas


Situasi di lereng Merapi, Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Slelman, Yogyakarta, pada hari Rabu (27/10).


Sebuah mobil turut menjadi korban awan panas yang dikeluarkan oleh Merapi.


Subhanallaah.. sebuah masjid masih berdiri kokoh!


Semua tertutup debu..








Dahsyatnya awan panas yang dikenal dengan "Wedhus Gembel" ini
mampu melepaskan kulit dari daging manusia!


Sumber (Source beberapa foto dari sumber ini) >> (dengan perubahan tanpa mengurangi maksud dan tujuan penulisan).

Minggu, 24 Oktober 2010

Rp 400 Miliar untuk Rekonstruksi Wasior

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

wasior.jpg wasior picture by jazz_cries

Pemerintah menganggarkan dana Rp 400 miliar untuk pembangunan Wasior pasca banjir bandang. Pencairannya kelak sepenuhnya tergantung kepada persetujuan DPR dalam rapat pembahasan RAPBN 2011.

Demikian ungkap Menko Kesra Agung Laksono mengenai persiapan tahap rekonstruksi dan rehabilitas Wasior. Dia dicegat wartawan usai melepas Presiden SBY dan rombongan terbang ke China, Senin (25/10/2010), di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur.

"Dana yang kita siapkan Rp 300 miliar sampai Rp 400 miliar. Tapi persisnya nanti tergantung DPR sebab kan juga pencairannya perlu persetujuan DPR," kata Agung.

Menurutnya, prioritas penggunaan dana sebesar itu untuk membangun kembali rumah-rumah milik warga. Bangunan baru rumah tinggal ini akan menggunakan konstruksi baja ringan agar lebih cepat waktu pengerjaan dan tidak perlu menebang pohon.

"Rumahnya ukuran 36 dengan rangka baja ringan. Teknologinya sederhana, lama pembangunannya 6 bulan buat keseluruhan. Nanti didata siapa-siapa saja yang berhak mendapatkannya," imbuh Agung.

Sedangkan untuk lokasi pembangunan pemukiman baru itu, masih dicarikan lokasi yang aman dari longsor dan banjir hingga ratusan tahun ke depan. Meski tidak tepat di Wasior, lokasi baru ini akan tetap berada di wilayah Teluk Wondama, Papua Barat.

Sambil menunggu seluruh rangkaian tahap rekontruksi dan rehabilitasi itu tuntas, pengungsi akan dipindahkan ke pengungsian baru. Bukan lagi di tenda seperti sekarang, melainkan di barak-barak yang layak huni dengan sanana sanitasi jauh lebih baik.

"Per 1 Nopember barak-barak sudah bisa mulai dihuni," sambung Agung.

Rabu, 13 Oktober 2010

Hujan Deras Semalam Membuat Kompleks Dosen IKIP di Bekasi Terendam

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com



Hujan deras mengguyur Jakarta dan sekitarnya pada Rabu (13/10) malam. Akibat hujan tersebut, Kompleks Perumahan Dosen IKIP di Jatikramat, Jatibening, Bekasi, terendam hingga 1,5 meter.

"Sampai subuh tadi masih ada genangan di sana," kata Fahri, warga Jatibening, Bekasi, Kamis (14/10/2010) pukul 08.45 WIB.

Menurut Fahri, kompleks tersebut memang langganan banjir karena daerahnya rendah. Selain itu, Perumahan Antilope Jatiwaringin juga terendam air akibat hujan semalam.

"Kendaraan dari Pondok Gede menuju Kalimalang mungkin agak susah, jadi sebaiknya memotong jalan lewat Jalan Asem. Kalau dari Kalimalang ke Pondok Gede bis melalui perkampungan di Jalan Jatikramat," saran dia.

Traffic Management Center (TMC) belum mendapatkan laporan tersebut. Hingga pukul 08.30 WIB, tidak ada laporan genangan air sebagai imbas hujan deras semalam.

"Hanya ada beberapa kepadatan. Misalnya saja di Jalan Kamal Raya mengarah ke Ring Road dan arah sebaliknya karena banyak kendaraan di depan Perumahan Kencana," ujar petugas TMC, Briptu Imam.

Beberapa petugas lalu lintas sudah mengatur jalanan dengan lebih memprioritaskan kendaraan yang akan berbelok.

Kepadatan lalu lintas di Cawang juga terjadi akibat peti kemas mogok di Cawang Kompor arah Pancoran. Kendaraan bernopol B 9239 GZ tersebut mogok sekitar pukul 08.30 WIB. Selain itu di tanjakan Tomang arah Grogol juga ada truk tronton bermuatan besi yang mogok. Kendaraan malang itu bernopol B 9544 IP.

Sumber