Tampilkan postingan dengan label Kecelakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecelakaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

Rusuh di Festival Air, 345 Orang Tewas

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com


345 Orang tewas saat menyaksikan festival air di Phnom Penh, Kamboja, Selasa (23/11). Warga yang tewas sebagian besar karena terinjak saat berebut meninggalkan jembatan, tempat acara berlangsung. Berikut beberapa moment yang berhasil diabadikan :

GB
Kerusuhan terjadi saat jutaan orang memadati jembatan untuk menyaksikan final festival air yang digelar tiap tahun. Kepanikan mulai melanda setelah beberapa pengunjung terlihat pingsan di tengah kerumunan.


GB
Kondisi ini membuat seluruh pengunjung panik. Sebagian ada yang terinjak-injak hingga tewas. Lalu tak sedikit pula yang tercebur ke sungai.

GB
Sesaat setelah kerusuahan mereda. Mayat-mayat bergelimpangan di pinggir jembatan.

GB
Korban tewas dievakuasi dengan truk.

GB
Petugas mengevakuasi salah satu korban luka. Lebih dari 329 orang terluka.

Minggu, 07 November 2010

Din: Letusan Merapi Layak Ditetapkan Sebagai Bencana Nasional

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

din_di_pengungsian.jpg Din_Syamsudin_di_pengungsian picture by jazz_cries

Magelang - Meski pemerintah sudah menetapkan koordinator penanganan bencana Merapi berada di tangan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), namun Presiden SBY belum menetapkan bencana Merapi sebagai bencana nasional. Dengan melihat ruang lingkup ancaman letusan Merapi, Din Syamsuddin menilai penetapan Merapi sebagai bencana nasional sudah layak.

"Sangat. Sangat layak, bencana gunung Merapi sebagai bencana nasional karena lingkup sangat luas melibatkan rakyat yang mengungsi hampir 200 ribu orang," tegas kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin kepada detikcom.

Terkait dengan penanganan bencana Merapi, Din menilai, kinerja pemerintah dalam menangani korban belum berjalan maksimal. Banyak posko pengungsian yang didirikan secara mandiri oleh warga ataupun masyarakat luas belum terpantau oleh pemerintah.

"Posko pengungsi tidak terlalu terjangkau oleh pemerintah. Logistik menumpuk di pemerintah tidak seluruhnya tersebar dan terdistribusi ke posko-posko. Masyarakat perlu perhatian lebih," tegas Din.

Minggu (7/11/2010) kemarin, Din Syamsuddin mendatangi pengungsi di Ponpes Muhammadiyah Kecamatan Muntilan, Magelang. Din Syamsudin juga mengunjungi 8 titik pengungsi yang berada di Magelang, Jawa Tengah. "Salah satu titik di Magelang sebanyak 40 ribu. Ada sebanyak 18 posko di bawah naungan Muhammadiyah," tegas Din.

Terkait penanganan bencana, kata Din, sebanyak 26 RS Muhammadiyah se-Jawa Tengah menyediakan pelayanan psikologi, pelayanan pendidikkan anak-anak dan pengungsi. Muhammadiyah juga menurunkan sebanyak 95 orang petugas evakuasi korban letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dari organisasi kepemudaan Muhammadiyah yang bernama Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).

'Keong Racun' Ceriakan Pengungsi di Maguwoharjo

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

keongracunhiburpengungsi.jpg keong racun hibur pengungsi picture by jazz_cries

Jakarta - Di tengah suasana berduka akibat letusan Gunung Merapi yang menewaskan sejumlah kerabatnya, para pengungsi masih bisa tersenyum. Alunan lagu Keong Racun yang nge-beat, membuat sejumlah pengungsi ikut bernyanyi dan berjoget.

Pantauan detikcom di posko Maguwoharjo, Depok, Sleman, DIY, rombongan Dompet Dhuafa Jakarta tiba di lokasi, Senin (8/11/2010), pukul 09.15 WIB. Rombongan ini membawa 6 pengamen dari Malioboro.

Keenam pengamen yang mengenakan rompi Dompet Dhuafa ini langsung menyanyikan lagu Keong Racun yang dipopulerkan oleh lipsing Shinta-Jojo itu di Youtube. Perlahan-lahan, pengungsi yang tadinya sedang mengantre mandi, langsung mengerumuni para pengamen.

Ada sekitar 70-an pengungsi yang datang. Mulai dari anak-anak hingga nenek dan kakek. Bahkan ada seorang nenek dan kakek ikut bergoyang di tengah-tengah pengamen. Sedangkan pengungsi lainnya ikut bersama-sama pengamen menyanyikan lagu Keong Racun tersebut.

"Eh kau tak tahu malu tanpa basa basi kau ajak happy-happy," seru pengungsi mengikuti lirik lagunya.

Usai lagu Keong Racun, pengungsi juga dihibur lagu Cinta Satu Malam yang dipopulerkan oleh Melinda. Sambil bertepuk tangan, pengungsi terus berjoget dan bernyanyi.

"Kami sengaja membawa pengamen Malioboro untuk menghibur warga di sini. Saya melihat pengungsi antusias melihat pertunjukan pengamen," ujar seorang petugas Dompet Dhuafa.

Selain membawa pengamen, Dompet Dhuafa juga membawa bantuan 2 ton beras. Beras ini nantinya akan diserahkan kepada pihak panitia di posko Maguwoharjo setelah selesai hiburan pengamen.

Sementara itu, ratusan pengungsi lain, masih menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ada yang mandi, mencuci dan menjemur pakaian, dan sebagian lainnya mengantre pembagian baju bekas yang disediakan panitia dari sumbangan orang.

'Silet' Minta Maaf Tayangannya Resahkan Warga Yogyakarta

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

permintaan_naaf_silet.jpg permintaan_naaf_silet image by jazz_cries

Jakarta
- Redaksi infotainment Silet yang tayang di RCTI meminta maaf atas penayangan edisi Minggu (7/11/2010) yang dinilai meresahkan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Permintaan maaf Silet ini ditayangkan beberapa detik setiap beberapa menit.

Pantauan detikcom, permintaan maaf itu mulai ditayangkan di layar RCTI pada Minggu (7/11/2010) malam. Permintaan maaf itu dengan latar belakang hitam dengan tulisan putih, dengan logo 'Silet' di pojok kanan bawah.

Bunyi tulisan itu, "Segenap tim redaksi Silet memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas pemberitaan Silet edisi Minggu 7 November 2010 yang memuat ramalan dan pesan berantai yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya tentang prediksi Merapi. Simpati dan doa kami untuk seluruh korban bencana."

Selain melalui tayangan beberapa detik itu, permintaan maaf juga disampaikan melalui teks berjalan (running text).

Tayangan Silet edisi Minggu banyak menunai kritik di berbagai media, termasuk Twitter, karena meresahkan dan membuat takut pengungsi. Dalam tayangan itu disebutkan radius awan panas Merapi mencapai 65 km dan diramal akan ada ledakan besar. Ada juga pernyataan bahwa Yogya adalah kota malapetaka.

Sebelumnya, banyak warga yang mengeluhkan pemberitaan stasiun televisi tentang bencana Gunung Merapi yang dinilai terlalu berlebihan. Keluhan ini diterima Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik melalui email dan berbagai jaringan sosial media lainnya.

Merespons keluhan masyarakat atas pemberitaan bencana yang dinilai berlebihan di stasiun televisi. KPI akan mengundang para pemimpin redaksi stasiun TV pada Senin 8 November untuk membahas pemberitaan bencana itu.

"Pasti (direspons). Itu sangat luar biasa, kejadian ini tidak biasa," ujar Ketua KPI Dadang Rahmat ketika berbincang dengan detikcom, Minggu (7/11/2010) tentang adanya keluhan masyarakat atas pemberitaan bencana di stasiun TV.

Mengenai surat terbuka jaringan relawan Yogyakarta, Dadang mengatakan belum menerima surat itu, namun mengetahui informasinya. Dia juga memahami esensi keluhan para relawan itu.

Pihaknya berencana memanggil para pemimpin stasiun TV beserta pemimpin redaksinya pada Senin 8 November.

"Kalau soal memanggil akan memanggil Senin besok sore, pimpinan stasiun tv dan redaksinya, lebih komprehensif dalam kondisi seperti ini. Suratnya dikirim besok pagi, dan pertemuannya sore," jelas dia.

Sumber

Kamis, 14 Oktober 2010

Anak Kesetrum di Stasiun UI Dievakuasi, Penumpang KRL Menumpuk

Media Monitoring, Analysis and Tracking, Information System Consultant, Software-Web Develoment and Maintenance, Computer Network Supply and Installation, Purchasing Service
Cakrajiya Ciptana (CCi)
http://www.cc-indonesia.com

antrianstasiunkereta.jpg antrian_stasiun_kereta image by jazz_cries

Evakuasi anak kecil yang kesetrum di Stasiun UI dilakukan dengan memadamkan listrik lebih dulu sekitar 1 jam. Akibatnya, kereta api dari Bogor ke arah Jakarta antre berjalan satu persatu setelah listrik kembali menyala. Hal ini mengakibatkan penumpukan penumpang di sejumlah stasiun.

"Kereta saya satu jam menunggu di Stasiun UI karena menunggu evakuasi korban," ujar penumpang KRL jurusan Jakarta, Ahmad Rifai, kepada detikcom, Jumat (15/10/2010).

Nasib serupa juga dialami Anton yang juga naik KRL yang melintas di Stasiun UI. Anton terpaksa menunggu listrik menyala hingga keretanya berjalan kembali.

"Beberapa kereta dari Bogor ke Jakarta tertahan lebih dari dua puluh menit," terang Anton.

Penumpukan kereta tidak hanya terjadi di Stasiun UI. Imbas dari penumpukan kereta di Stasiun UI mengakibatkan penumpukan kereta di stasiun sebelumnya.

"Gara-gara seorang anak kecil kesetrum di atap kereta di Stasiun UI, membuat jadwal kereta mengalami gangguan. Jalur kereta mulai Stasiun UI hingga pasar Minggu mengalami gangguan, karena hanya dijalankan satu arah," terang Puji yang berada di Stasiun Pondok Cina.

Puji bersama-teman-temannya yang hendak berangkat bekerja pun harus mengantre karena penumpang kereta api di stasiun ini membeludak. Bahkan KRL ekonomi AC yang ditumpanginya pun penuh sesak.

"Antrean penumpang membeludak di stasiun, salah satunya Stasiun Pondok Cina. Penumpang kereta ekonomi AC pun penuh sesak dan bergelantungaan di pintu-pintu kereta," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan anak kecil kesetrum di atap KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta. Anak kecil ini terbakar hingga hangus.